
Mayangan – Tahun ini Kota Probolinggo punya gawe besar dengan menjadi tuan rumah bagi pelaksanaan Musyawarah Komisariat Wilayah (Komwil) IV Apeksi (Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia) ke-12 Tahun 2020. Sebanyak tiga belas pemerintah kota yang termasuk dalam Komwil IV mulai dari Madiun sampai Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB) akan datang di Kota Probolinggo pada tanggal 19-21 Juni 2020 dengan beberapa agenda yang direncanakan, salah satunya adalah pawai budaya. Butuh persiapan matang untuk menggelar acara tersebut, maka diadakan rapat koordinasi yang khusus menangani pawai budaya tersebut.
“Rapat hari ini (Senin, 02/03) bertujuan untuk memperlihatkan rancangan pawai budaya Apeksi yang dibarengkan dengan pawai budaya Semipro yang rencananya akan dilaksanakan pada tanggal 20 Juni,” kata Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Dispopar) Kota Probolinggo, Budi Krisyanto. Dia menjelaskan bahwa konsep ini nantinya akan dipresentasikan pada saat Pra Muskomwil di depan seluruh delegasi peserta Apeksi. Pawai budaya akan mengambil tema “Pelangi Timur Nusantara.
Rencananya, pawai kali ini akan diadakan pada malam hari. “Direncanakan akan dimulai pukul tujuh malam, seremoni pembukaan selama satu jam, dan iringan pawai sudah harus harus diberangkatkan pada pukul delapan malam, dengan estimasi selesai pada pukul sepuluh, paling lambat jam sebelas malam,” kata Budi Kris. Dia juga menjelaskan bahwa semua hal tersebut juga mempertimbangkan dari jumlah peserta pawai dan panjangnya rute pawai.
Peni Priyono, ketua Dewan Kesenian Kota Probolinggo, mengusulkan bahwa rute pawai harusnya lebih pendek. “Mengacu dari pengalaman selama mengikuti pawai budaya Apeksi di kota lain, rute yang ditempuh cenderung pendek, jadi waktu yang ditempuh tidak lama,” katanya. Biasanya, pawai budaya dimulai di depan kantor wali kota Probolinggo, masuk jalan Gatot Subroto, jalan Ahmad Yani dan finish di Alun-alun. Hal tersebut untuk memecah konsentrasi penonton di satu titik. Dalam rapat tersebut, ada tiga alternatif rute yang diajukan. Alternatif pertama adalah start alun-alun – jalan Ahmad Yani – jalan DI Panjaitan dan berakhir di stadion. Alternatif kedua dimulai di depan kantor wali kota melewati jalan suroyo dan finish di alun-alun. Dan alternatif terakhir adalah rute yang biasa dilalui saat pawai budaya, yakni depan kantor wali kota melewati jalan Gatot Subroto dan berakhir di alun-alun. “Tentunya tiga alternatif tersebut kita tawarkan kepada wali kota dengan kelebihan dan kekurangannya,” kata Budi Kris.(antz)
Mayangan – This year Probolinggo city has a big project as a host for 12th discussion of regional commissariat (komwil) IV of APEKSI (Association of Indonesian Municipalities). There are thirteen municipalities, as the member of Komwil IV coming from Madiun up to Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB), will come to Probolinggo city on 19-21 June 2020 attending some events, one of them is culture parade. Since it needs well preparation, there is coordination meeting to prepare all the needs.
“Today’s meeting (Monday, 02/03) is for showing the plan of APEKSI culture parade that will be held along with Semipro (Seminggu di Kota Probolinggo, an annual event of Probolinggo city) parade culture which will be held on 20 June,” the head of Youth, Sport, and Tourism agency (Dispopar) of Probolinggo city, Budi Krisyanto said. He defines that this concept will be presented on Pra Muskorwil (regional discussion) for all delegation. The culture parade will be themed “Pelangi Timur Nusantara/The Rainbow of East Archipelago”.
This parade will be held at night. “It will start at 7 p.m., opening ceremony for an hour, so that the parade will start at 8 PM and finish at 10 PM or at least at 11 PM, “ he added. He also defines that it also depends on the number of the parade participants and the route of the parade.
Peni Priyono, the head of Dewan Kesenian (artist community) of Probolinggo City, asked the shorter route for the parade. “ Based on our experience in other cities, they have shorter route, so it does not need any long duration to pass through,” he stated. Usually, cultural parade starts at the front of the mayor office of Probolinggo city to Gatot Subroto street, Ahmad Yani street and finish at the city square. It is to break the crowd of peopleso they are not clustered in one place.
In that meeting, there are three alternatives routes. The first alternative route start at the city square to Ahmad Yani street – Panjaitan street and finish at stadium. The second alternative start at the front of mayor office, leading to Suroyo street and finish at the city square. And the last route is the usual route when the culture parade was held, starting at the front of mayor office to city square by passing through Gatot Subroto street. “We will explain it to the mayor,” Budi Kris said. (unofficial translation)
