
Virus Corona telah menyebar luas. Semua daerah telah bergerak untuk mencegah dan menangani virus yang berasal dari China tersebut. Tak terkecuali pemerintah Kota Probolinggo. Dalam hal ini, pemkot telah membentuk Tim Satuan Tugas Penanggulangan Bencana Non Alam dan Percepatan Corona Virus Disease (Covid-19) Kota Probolinggo yang tertuang dalam Keputusan Wali Kota Probolinggo Nomor : 188.45/173/KEP/425.012/2020 tentang Satuan Tugas Penanggulangan Bencana Non Alam dan Percepatan Penanganan Corona Virus Disease (Covid-19) Kota Probolinggo.
Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Dispopar) Kota Probolinggo pun ambil bagian dalam satgas tersebut selaku koordinator bidang pariwisata. Mengumpulkan angota PHRI (Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia) Kota Probolinggo, Dispopar mengkomunikasikan hal-hal yang tertuang dalam surat keputusan Wali Kota Probolinggo tersebut, Selasa (24/03). “Dengan melakukan komunikasi ini, kita sudah, sedang, dan terus melakukan pencegahan-pencegahan agar virus tersebut tidak masuk Kota Probolinggo, dengan melaksanakan hal-hal yang sudah ditentukan,” kata Budi Krisyanto, Kepala Dispopar.
Dalam SK tersebut, para pelaku usaha pariwisata dihimbau untuk menyediakan hand sanitizer di setiap lobi, menyediakan sabun antiseptik untuk cuci tangan dengan air mengalir, memeriksa suhu tubuh setiap tamu, menyediakan masker, menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), dan masih banyak protokol kesehatan yang harus dipatuhi.
Agus, perwakilan dari Hotel Bromo View mengatakan akan melakukan apa yang sudah ditetapkan oleh pemerintah. “Kami siap melaporkan segala informasi yang dibutuhkan secara real time, bisa perhari atau tiga hari,” katanya. Tetapi, dia juga mengharapkan apresiasi pemerintah terhadap pengusaha pariwisata dalam berjuang bersama-sama mencegah penyebaran virus Corona di Kota Probolinggo. “Dalam hal ini kami meminta tax holiday (penangguhan pajak) selama enam bulan,” katanya.
Andre, perwakilan dari Hotel Tampiarto sekaligus pengurus dari PHRI mengatakan pelaku usaha jasa pariwisata akan kooperatif dalam melaksanakan ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan. Tax holiday selama enam bulan tersebut akan digunakan untuk menormalkan kembali kondisi keuangan dari manajemen hotel itu sendiri. “Kami sangat merasakan dampak dari penyebaran virus tersebut. Jumlah tamu menurun drastis, bahkan di tempat kami sudah meliburkan 50 persen karyawan kami, hal tersebut untuk untuk menekan biaya operasional hotel,” jelasnya. Selain itu, PHRI juga mengharapkan adanya informasi akurat terkait dengan Covid-19 di Kota Probolinggo. Menanggapi hal tersebut Kepala Dispopar mengatakan akan mendiskusikan hal tersebut dengan pihak yang lebih berwenang. “Untuk langkah awal, kami menyiapkan ruangan di depan kantor Dispopar sebagai posko dari satgas pariwisata,” kata Budi Kris.(antz)
Mayangan – Corona virus has spread widely. All of districts including Probolinggo city government has some preparation in preventing and handling this virus which come from China. In this case, city government has formed a task force team of Non-Nature Disaster Management in Handling Corona Virus Disease (Covid-19) that stated in mayoral decree number : 188.45/173/KEP/425.012/2020.
Youth, Sport and Tourism Service (Dispopar) of Probolinggo City also involved as the coordinator of tourism field. Summoning the members of PHRI (Indonesian Hotel and Restaurant Association) of Probolinggo City, Dispopar socialized all things as stated in that mayoral decree, on Tuesday (24/3). “By communicating it, we prevent that virus infecting Probolinggo City people through implementing certain rule continuously,” the head of Dispopar, Budi Krisyanto said.
In that decree, the tourism business should provide hand sanitizer in lobby, antiseptic soap for washing hands, masks, and measure guest’s temperature. They also must implement clean and healthy lifestyle (PHBS) and many more health protocol.
Agus, the representative of Bromo View Hotel said that Bromo View Hotel would do what government has determined. “We are ready to report all of information needed in real time either everyday or per three days,” Agus said. Nevertheless, he also hoped that the government appreciates the tourism enterpreuners in fighting corona virus. “ In this case, we ask tax holiday for six months,” he added.
Andre, perwakilan dari Hotel Tampiarto sekaligus pengurus dari PHRI mengatakan pelaku usaha jasa pariwisata akan kooperatif dalam melaksanakan ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan. Tax holiday selama enam bulan tersebut akan digunakan untuk menormalkan kembali kondisi keuangan dari manajemen hotel itu sendiri. “Kami sangat merasakan dampak dari penyebaran virus tersebut. Jumlah tamu menurun drastis, bahkan di tempat kami sudah meliburkan 50 persen karyawan kami, hal tersebut untuk untuk menekan biaya operasional hotel,” jelasnya. Selain itu, PHRI juga mengharapkan adanya informasi akurat terkait dengan Covid-19 di Kota Probolinggo. Andre, the representative of Tampiarto Hotel and PHRI management stated that the tourism entrepreneurs will be cooperative in implementing the rules. The tax holidays for six months will be used to renormalize the financial condition of hotel management. “We do experience the impact of this pandemic. The number of guest is decreasing, even our hotel has layoff 50 percent of employees to cut the operational cost,” he said. Besides, PHRI also hoped there is accurate information about Covid-19 in Probolinggo city.
To respond it, the head of Dispopar explained that he would discuss this with authorities. “For the first step, we provide a place for information center,” Budi Kris stated. (unofficial translation)
