Mayangan – Seleksi Pemuda Pelopor tingkat Kota Probolinggo telah usai. Telah terpilih tiga pemuda dengan bidangnya masing-masing. Adalah Anas Fathullah untuk bidang pangan, Heny Dwi Yuliati untuk bidang Sumber Daya Alam dan Lingkungan Pariwisata, dan Nico Sawiji untuk bidang Budaya.
Anas terpilih karena kreatifitasnya dalam memproduksi bahan pangan yakni jagung. Pemuda 25 tahun itu mengolah jagung dari petani lokal untuk dijadikan cemilan “marning” dan dijual dengan harga terjangkau. Heny merupakan seorang guru yang juga pemilik dari sanggar “Lembu Ireng”. Dalam sanggar tersebut, pemudi 23 tahun tersebut memperkenalkan seni musik tradisional Hadrah di kalangan generasi muda. Sekarang, dia memiliki 30-an anggota di sanggarnya. Sedangkan Nico Sawiji terpilih karena kegigihannya dalam memperkenalkan batik khas Probolinggo. Dia mempunyai merek batik sendiri “Poerwa” dan telah sukses menjual batik buatannya ke Dermark, Jerman dan Jepang. Bahkan, Ibu Negara Iriana Widodo baru saja memesan masker batik darinya sebanyak 50 buah.
Mereka adalah pemuda-pemudi yang menjadi perwakilan Kota Probolinggo dalam seleksi pemuda pelopor tingkat Provinsi Jawa Timur, Sabtu (22/08). Tak lepas dari adanya pandemi Covid-19, seleksi pemuda pelopor diadakan secara Dalam Jaringan (daring) melalui aplikasi zoom dan Google Meet. Daring Seleksi Pemilihan Pemuda Pelopor Tingkat Provinsi meliputi 4 tahap yaitu perkenalan (1 menit), presentasi (maks 10 menit), tanya jawab dengan tim juri (5-10 menit) dan penutup (1 menit).
Adapun materi yang dipresentasikan memuat 4 hal utama yakni, karya kepeloporan apa yang telah diperbuat; arti pentingnya bagi masyarakat setempat; implementasi di lapangan dan tantangan/hambatan dan capaian.
Didit Irwanto, selaku Kabid Pemuda dan Olahraga, pada kesempatan itu menyampaikan arahan dan harapannya “Semoga dari 3 perwakilan ini, ada yang bisa masuk tingkat provinsi, andaipun tidak masuk tolong kemanfaatan masing-masing bidang yang ditangani dikembangkan/memberi pelopor di bidangnya. Sehingga kepeloporan di tingkat kota dirasakan oleh masyarakat Kota Probolinggo utamanya di lingkungan masing-masing,” katanya. (antz/dispopar)

