Kota Probolinggo, Jawa Timur | Indonesia

Talkshow di Suara Kota, Dispopar Jabarkan Ekonomi Kreatif

Mayangan – Pemerintah Kota Probolinggo selalu mengkomunikasikan seluruh program dan kegiatan yang dilakukan agar diketahui oleh masyarakat. Dalam hal ini, Pemkot menyuarakannya dalam acara Talkshow yang digelar di Radio Suara Kota. Talkshow merupakan kegiatan rutin dan seluruh dinas akan bergiliran untuk menjelaskan program dan kegiatan yang akan dilaksanakan. Kali ini, Selasa (16/02), giliran Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Dispopar) Kota Probolinggo untuk memaparkan kegiatan yang ada di Dispopar.

“Ekonomi kreatif merupakan sebuah konsep bidang perekonomian dengan mengutamakan kreativitas dan informasi,” katanya. Terdapat 16 sub sektor yang termasuk dalam ekonomi kreatif diantaranya aplikasi dan pengembangan permainan, arsitektur, desain produk, fashion, desain interior, seni pertunjukan, fotografi, kuliner, musik, seni rupa, televisi dan radio.

Selaku dinas yang mempunyai tugas dan fungsi dalam hal ekonomi kreatif, Dispopar telah melakukan berbagai kegiatan untuk pengembangan ekonomi kreatif di Kota Probolinggo, diantaranya pembinaan fotografi, desain grafis, film dan animasi. “Pada tahun 2020, kita melakukan updating data terhadap pelaku ekonomi kreatif, dan didapat sebanyak 42 pelaku ekraf di Kota Probolinggo, yang menjalankan usaha dibidang usaha arsitektur, fashion, fotografi, dan beberapa usaha lainnya,” tambah Kiki.

Untuk tahun 2021, Dispopar berencana untuk melaksanakan festival ekonomi kreatif. “Tentunya pelaksanaannya akan disesuaikan dengan kondisi pandemik saat ini dan tetap melaksanakan protokol kesehatan,” jelasnya.

Perlu diketahui, industri kreatif juga menjadi salah satu sektor ekonomi yang paling terdampak selama pandemi. Pasalnya, omzet dari industri kreatif UMKM di tengah pandemi sangat jauh menurun yang kemudian mempengaruhi kelancaran kredit perbankan di sektor atau industri ini karena Ekonomi kreatif umumnya banyak berhubungan dengan pariwisata, termasuk industri oleh-oleh dan juga barang-barang kerajinan.

“Dengan mengembangkan ekonomi kreatif, kita bertujuan untuk mendorong kiprah para pelaku ekonomi kreatif, mempromosikan hasil karya para pelaku ekonomi kreatif sehingga dikenal masyarakat luas, dan juga bisa menciptakan lokal branding dan bisa menjadi alternatif hiburan bagi masyarakat,” tutupnya. (antz/dispopar)

 

Talkshow at Suara Kota, Dispopar Explains Creative Economy

Mayangan – Probolinggo City Government always communicates all programs and activities in order to be known publicly. In this case, the City Government announced it in a talk show held on Radio Suara Kota. Talkshow is a routine activity and all agencies will take turns explaining their programs and activities. This time, Tuesday (16/02), it was the turn of the Youth, Sports and Tourism Agency (Dispopar) to explain theirs.

“Creative economy is a concept in the economic field by prioritizing creativity and information,” said Rizky Fadhillah, the section head of society empowerment and economy creative of Dispopar. There are 16 sub-sectors of creative economy including game application and development, architecture, product design, fashion, interior design, performing arts, photography, culinary, music, fine arts, television and radio.

As an agency that has duties and functions in terms of the creative economy, Dispopar has carried out various activities for the development of the creative economy in Probolinggo City, including coaching for photography, graphic design, film and animation. “In 2020, we updated data on creative economy, and obtained as many as 42 creative economy businesses in Probolinggo City, which run architecture, fashion, photography, and several other businesses,” added Kiki, what she called.

For 2021, Dispopar plans to hold a creative economy festival. “Of course the implementation will be adjusted to the current pandemic conditions and continue to implement health protocols,” she explained.

It should be noted that the creative industry is also one of the most affected economic sectors during the pandemic. This is because the turnover of the SMEs creative industry in the midst of the pandemic has greatly decreased which then affects the smoothness of banking credit in this sector or industry since the creative economy is generally related to tourism, including the souvenir industry and also handicrafts.

“By developing the creative economy, we aim to encourage creative economy businesses, to promote their work so that they are known to the wider community, and also to create local branding and it can be an alternative entertainment for the community,” she concluded. (unofficial translation)