Kota Probolinggo, Jawa Timur | Indonesia

Tingkatkan Pariwisata, Dispopar Lakukan Banyak Hal Saat Pandemi

Kademangan – Sektor pariwisata menjadi salah satu sektor yang sangat terdampak dalam kondisi pandemi, tetapi sektor pariwisata juga menjadi salah satu sektor yang dijadikan bidang prioritas dalam pemulihan ekonomi dalam adaptasi kebiasaan baru ini. Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Dispopar) Kota Probolinggo pun berupaya untuk memulihkan kembali sektor pariwisata di Kota Probolinggo

Selama pandemi, yang sangat terpengaruh adalah kedatangan wisatawan mancanegara yang turun drastis. “Hal tersebut dikarenakan pembatalan 18 kedatangan kapal pesiar yang telah terjadwal, sedangkan untuk wisatawan nusantara, jumlahnya menurun hingga 50 persen,” jelas Budi Krisyanto, Kepala Dispopar saat ditemui di Pantai Permata, Minggu (28/02). Tak hanya jumlah kunjungan yang berkurang selama pandemi, tapi juga Pendapatan Asli Daerah (PAD. “Biasanya, PAD dari penjualan tiket TRA (Taman Rekreasi Anak) menghasilkan enam ratus juta rupiah, tapi tahun kemarin hanya mendapatkan lima puluh persennya,” kata Budi Kris. Selama ini, PAD sektor pariwisata tidak hanya dari penjualan tiket dari destinasi wisata, tapi juga pajak reklame dan perhotelan.

Untuk Beejay Bakau Resort (BJBR), destinasi wisata yang dikelola oleh pihak ketiga, Pemerintah Kota Probolinggo mendapatkan PAD sebesar 67 juta rupiah dari sewa lahan. “Saat ini sedang berproses untuk memperbaharui perjanjian kerjasama tersebut, dengan harapan pemkot mendapatkan tambahan PAD dari keuntungan perusahaan,” tambahnya.

Selama pandemi, Dispopar telah melakukan banyak hal untuk membuat sektor pariwisata bangkit lagi. “Dispopar selalu mengkampanyekan perubahan perilaku dalam menghadapi adapatasi kebiasaan baru dan meyakinkan masyarakat bahwa aman untuk kembali berwisata dengan menerapkan protokol kesehatan yang benar,” katanya. Dispopar juga telah mengevaluasi beberapa destinasi wisata yang akan membuka kembali usahanya. “Kami telah mengeluarkan sembilan sertifikat terhadap destinasi wisata yang lolos dalam verifikasi dalam penerapan adaptasi kebiasaan baru,” jelasnya. Dispopar juga bekerjasama dengan berbagai elemen, baik pemerintah pusat, swasta dan masyarakat untuk penguatan BISA (bersih, Indah, Sehat, Aman) di tempat wisata, seperti penyediaan tempat cuci tangan, pembagian masker, dan lain sebagainya.  Dispopar juga melakukan berbagai pelatihan untuk pelaku usaha dan juga Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) untuk mengelola tempat wisata ataupun pembuatan paket wisata yang mampu menarik pengunjung.

Salah satu pelatihan Pokdarwis yang dilaksanakan oleh Dispopar selama pandemi

Selain itu, Pemerintah Kota Probolinggo sedang menjajaki untuk bekerjasama dengan kabupaten/kota sekitar yang termasuk dalam wilayah Bakorwil V Jember untuk membuat paket wisata terpadu. “Jadi Kota Probolinggo sebagai pintu masuk wisatawan, yang nantinya bisa meneruskan ke Kabupaten Probolinggo, Situbondo ataupun Lumajang. Harapannya paket wisata terpadu ini tidak hanya meningkatkan jumlah kunjungan tapi juga lama tinggal di Kota Probolinggo,” kata Budi Kris. Dispopar juga  berinisiatif untuk menambah layanan publik di beberapa destinasi wisata. “Bekerjasama dengan OPD terkait, kita akan membuka layanan publik seperti pembuatan KTP, KK di beberapa tempat wisata, sehingga pengunjung tidak hanya menikmati wisata tetapi juga bisa menerima layanan yang mereka butuhkan,” jelas Budi Kris. (antz/dispopar)

Increasing Tourism, Dispopar Does Many Things during Pandemic
During the pandemic, what was greatly affected was the arrival of foreign tourists which decrease drastically. “This is due to the cancellation of 18 scheduled cruise ship arrivals, while for domestic tourists, the number has decreased by 50 percent,” explained Budi Krisyanto, Head of Dispopar at Permata Beach, Sunday (28/02). Not only number of visits, but Regional Original Revenue (PAD) also decreased during the pandemic. “Usually, PAD from ticket sales of TRA (Taman Rekreasi Anak) is about six hundred million rupiah, but last year it only got fifty percent,” said Budi Kris. So far, the tourism sector’s PAD does not only come from ticket sales from tourist destinations, but also advertisement and hotel taxes.
For Beejay Bakau Resort (BJBR), a tourist destination managed by a third party, the Probolinggo City Government received 67 million rupiahs from land rent. “We are currently in the process of renewing the cooperation agreement, with the hope that the city government will get more revenue from the company’s profits,” he added.
During the pandemic, Dispopar has done a lot to revive the tourism sector. “Dispopar always campaigns for behavior change in adapting new behaviors and assuring the public that it is safe to travel by implementing the correct health protocols,” he said. Dispopar has also evaluated several tourist destinations that will reopen their businesses. “We have issued nine certificates for tourist destinations that have passed the verification in adopting new behaviors,” he explained. Dispopar also collaborates with various elements, such as central government, the private sector and the community, to strengthen BISA (Bersih, Indah, Sehat, Aman/Clean, Beautiful, Healthy, Safe) in tourist attractions by providing hand washing facilities, distributing masks, and so on. Dispopar also conducts various trainings for tourism businessmen and also the Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis/Tourism Awareness Group) to manage tourist attractions or to create tour packages that are able to attract visitors.
In addition, the Probolinggo City Government is exploring to cooperate with all regencies/cities of Bakorwil V Jember area to create an integrated tour package. “So, Probolinggo City is the entrance for tourists, who will continue to Probolinggo, Situbondo or Lumajang regencies. It is hoped that integrated tour package will not only increase the number of visits but also the length of stay in Probolinggo City,” said Budi Kris. Dispopar also took the initiative to add public services in several tourist destinations. “In collaboration with the related OPD, we will open public services such as making ID cards or family cards at several tourist attractions, so that visitors are not only enjoy their tour but also get the services they need,” explained Budi Kris. (unofficial translation)