Kota Probolinggo, Jawa Timur | Indonesia

Dispopar Lakukan Studi Referensi ke Surakarta

Surakarta – Sektor pariwisata merupakan salah satu sektor yang diharapkan mampu meningkatkan kembali perekonomian yang terpuruk gegara Covid-19. Maka, Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Dispopar) Kota Probolinggo melakukan berbagai kegiatan untuk memajukan pariwisata yang ada di Kota Probolinggo. Selain itu, juga mencari referensi bagaimana daerah lain mengembangkan pariwisata didaerahnya. Hal itulah yang mendasari kegiatan studi referensi ke Kota Surakarta yang dilakukan pada tanggal 5-7 April.

Dalam kesempatan ini, Kota Probolinggo ingin mengetahui cara Kota Surakarta dalam menghadapi pandemik dan juga cara meningkatkan perekonomian yang melemah karena pandemik. Menurut Asisten Pemerintahan Pemerintah Kota Surakarta, Kinkin Sutanul Hakim, Kota Surakarta sama dengan pemerintah daerah lainnya, yang mengalami penurunan Pendapatan Asli Daerah (PAD). “PAD kami menurun drastis, tahun 2018 kami mendapat 110 milyar, 2019 120 milyar, sedangkan tahun 2020 turun setengahnya, 60 milyar,” katanya.

Untuk pariwisata, kegiatan dialihkan menjadi kegiatan yang disiarkan secara live di media sosial pemerintah kota. “Baru-baru ini kami mencoba untuk menggelar event olahraga, sepak bola piala menpora dengan penerapkan protokol kesehatan dan tanpa penonton terbatas,” kata Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga, Joni Hari Sumantri, Dia juga mengatakan bila gelaran olahraga ini sukses dilaksanakan, bisa memicu kegiatan lainnya. “Bila piala Menpora ini tidak menghadirkan klaster baru, maka ada kemungkinan liga utama akan bergulir,” katanya.

Perlu diketahui, Kota Surakarta tidak mempunyai potensi alam, maka pemkot menjual wisata budaya yang cukup kental dengan budaya Jawa. Maka, untuk meningkatkan perekonomian, pemerintah kota Surakarta selalu memberdayakan pelaku seni pada setiap event pemerintahan. “Seperti Solo Menari masih kami adakan, tapi kami lakukan secara daring, mengurangi peserta, dan dilaksanakan dibeberapa tempat,” katanya.

Bahkan, festival lain pun tetap dilakukan, seperti festival dalang cilik, pementasan wayang kulit walaupun secara daring. “Dengan pemikiran, saat masyarakat menonton, butuh cemilan, mereka akan memesan makanan dan minuman , sehingga bisa juga menggerakkan roda perekonomian,” kata Kinkin. Selain itu, museum-museum yang ada di Surakarta juga telah dibuka dengan protokol kesehatan yang ketat.

Kepala Dispopar Kota Probolinggo, Budi Krisyanto mengatakan bahwa kegiatan studi referensi ini untuk menambah wawasan dan pengetahuan tentang pariwisata di daerah lain. “Kegiatan ini dilakukan agar kita yakin dengan rencana-rencana yang akan kita lakukan,” katanya. (antz/dispopar)

Dispopar Conducts Reference Study to Surakarta

Surakarta – Tourism is one of the expected sectors to revive the slumped economy as the Covid-19 pandemic effect. So, Youth, Sports and Tourism Agency (Dispopar) of Probolinggo City carried out various activities to promote tourism of Probolinggo city. In addition, Dispopar also looks for references on how other regions develop tourism in their area. That is why Dispopar looks for the reference to Surakarta City on April 5-7.

On this occasion, Probolinggo City government wants to know how the City of Surakarta is dealing with the pandemic and also how to improve the slumped economy by the pandemic. According to the Assistant for Governmental affairs of Surakarta City, Kinkin Sutanul Hakim, Surakarta City is like any other local governments, which its Regional Original Revenue (PAD) has decreased. “Our PAD decreased drastically, on 2018 we got 110 billion, 120 billion on 2019, while on 2020 it is only by half, 60 billion,” he said.

For tourism, events have been shifted to online event that are broadcasted live on government’s social media. “Recently we tried to hold a sport event, Menpora Cup of football by implementing health protocols and without spectators,” said Head of the Youth and Sports agency, Joni Hari Sumantri. He also said that if this event was success, it will be followed by another event. “If the Menpora Cup does not cause a new cluster, then there is a possibility of premier league will be held,” he said.

It should be noted that Surakarta city does not have natural tourism, so the city government sells cultural tourism which is pretty strong Javanese culture. So, to improve the economy, the Surakarta city government always empowers artists at every government event. “We still hold Solo Menari (Solo Dancing), but we do it online, reduce the number of participants, and hold it in several places,” he said.

In fact, other festivals are still being held, such as Festival Dalang Cilik (little puppeteer festival), wayang kulit (shadow puppet) performances but they make it online. “With that in mind, when people watch, they need snacks, they will order food and drinks, so they can also trigger the economy movement,” said Kinkin. In addition, museums in Surakarta have also been opened with strict health protocols.

Head of the Probolinggo City Dispopar, Budi Krisyanto said that this reference study was to give more insight and knowledge about tourism in other areas. “It is to ensure our future plans,” he said. (unofficial translation)