Kanigaran – Kota Probolinggo telah masuk dalam level 3 di masa PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat). Hal tersebut menjadi angin segar bagi masyarakat, dimana telah ada pelonggaran kegiatan seperti pelaksanaan pembelajaran tatap muka terbatas, pengunjung restoran lima puluh persen dari kapasitas dengan waktu makan maksimal enam puluh menit, dan akan dilakuakn uji coba protokol kesehatan untuk tempat wisata tertentu dengan beberapa ketentuan. Ketentuan tersebut diantaranya adalah mengikuti protokol kesehatan yang diatur oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dan Kementerian Kesehatan, serta wajib menggunakan aplikasi Peduli Lindungi untuk melakukan skrining terhadap semua pengunjung dan pegawai .
Maka, untuk mempersiapkan hal tersebut, Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Dispopar) Kota Probolinggo melakukan monitoring dan evaluasi (monev) terhadap beberapa Daya Tarik Wisata (DTW) yang di Kota Probolinggo. Monev kali ini, Dispopar menggandeng Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kota Probolinggo dalam mengawasi penerapan protocol kesehatan dari setiap DTW yang dikunjungi.
Monitoring dan evaluasi yang dilaksanakan Kamis (16/09) ini mengunjungi enam DTW yakni, Museum dr. Saleh, Museum Probolinggo, Bee Jay Bakau Resort (BJBR), Taman Wisata Studi Lingkungan (TWSL), Taman Rekreasi Anak (TRA) Bayuangga, Kolam Renang Olympic, dan Pantai Permata Pilang. “Monev kali ini untuk melihat kembali kesiapan para pengelola DTW jika sewaktu-waktu DTW boleh dibuka kembali,” kata Kepala Seksi Pendataan dan Informasi Pariwisata, Umi Salma.
Tim monev melakukan berbagai pengecekan, diantaranya ketersediaantempat cuci tangan, pengecekan suhu tubuh di pintu masuk, pemberitahuan pembatasan pengunjung, dan himbauan menjaga jarak antar pengunjung. Kali ini, tim monev mendapatkan beberapa penemuan, diantaranya ketiadaan informasi tentang protocol kesehatan dan penggunaan face shield (pelindung wajah)bagi pegawai di museum Probolinggo, dan ketiadaan sarana kesehatan/P3K di museum dr. saleh. “Maka,kami berharap agar pengelola DTW segera menindaklanjuti hal-hal yang menjadi rekomendasi oleh tim,” terang Umi. Untuk penerapan aplikasi Peduli Lindungi dirasa masih kurang siap di setiap DTW. (antz/dispopar)
PPKM Level 3, Dispopar Hold Monev at Six DTW
Kanigaran – Probolinggo City were lowered to PPKM (public activity restriction) level 3. This is a good opportunity for the community, that there are loosening the activities restriction such as limited face-to-face learning, restaurant can operate fifty percent of capacity with a maximum sixty minutes meal time, and health protocol will be implemented at certain tourist attractions with certain conditions. These conditions include applying the health protocols regulated by the Ministry of Tourism and Creative Economy and the Ministry of Health, and using the PeduliLindungi application to screen all visitors and employees.
So, to prepare it, the Youth, Sports and Tourism Agency (Dispopar) of Probolinggo City conducted monitoring and evaluation (monev) to several Tourist Attractions (DTW) in Probolinggo City. This time, Dispopar collaborated with Health, Population Control and Family Planning Agency in supervising the implementation of health protocol for each visited DTW.
The monitoring and evaluation which was held on Thursday (16/09) visited six DTW, namely, dr. Saleh Museum, Probolinggo Museum, Bee Jay Bakau Resort (BJBR), Taman Wisata Studi Lingkungan (TWSL), Taman Rekreasi Anak (TRA) Bayuangga, Olympic Swimming Pool, and Permata Beach. “It is to review the readiness of DTW managers if it can be reopened at any time,” said Head of the Tourism Data Collection and Information Section, Umi Salma.
The team checked various things, such as the hand washing facilities, checking body temperature spot, sign for visitor restrictions and for keeping a distance between visitors. This time, the team found some mistakes, such as lack of information on health protocols and there are no face shields for employees at the Probolinggo museum, and there is no medical facilities/first aid box at the dr. saleh museum. “So, we hope that the DTW manager will immediately fix it as the team recommendation,” explained Umi. And each DTW was not ready yet in applying PeduliLindungi application.(unofficial translation)
