
Mayangan – Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Dispopar) Kota Probolinggo mengadakan pembinaan ekonomi kreatif di Paseban Sena, pada Selasa (2/11). Pelatihan yang diikuti oleh 50 pelaku ekonomi kreatif ini akan diselenggarakan selama dua hari.
Kepala Dispopar, Budi Krisyanto mengatakan bahwa tantangan besar bagi ekonomi kreatif adalah beralihnya penjualan tradisional (luring) ke penjualan modern (daring). “Pasalnya, tidak semua pelaku ekonomi kreatif di indonesia memahami metode daring. hal ini membuat banyak pelaku usaha kreatif yang gulung tikar pada masa awal pandemi karena minimnya permintaan,” katanya.
Maka, pemerintah kota probolinggo melalui dispopar mengadakan pembinaan bagi pelaku ekonomi kreatif tentang pemasaran digital. “melalui pembinaan ini diharapkan pelaku ekonomi kreatif mulai beradaptasi dengan teknologi dalam memasarkan produk. hal tersebut juga menjadi salah satu kekuatan baru bagi sektor ekonomi kreatif tanah air. nantinya, setelah pandemi berakhir, kemampuan untuk menguasai pasar daring akan menjadi nilai tambah bagi pelaku ekonomi kreatif di Indonesia,” tambahnya.
Kepala Bidang Destinasi Pariwisata, Sugeng Harijanto mengatakan tujuan dari pelatihan ini untuk meningkatkan kompetensi sumber daya manusia agar mampu bersaing dalam perkembangan industri pariwisata. “Dan juga untuk meningkatkan pengetahuan, motivasi, dan kompetensi pelaku ekonomi kreatif agar dapat memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi dalam pemasaran produknya,” tambahnya. Dalam pelatihan ini dikhususkan untuk para pelaku ekonomi kreatif yang masuk dalam sub sektor kuliner, fashion (batik) dan griya. (antz/dispopar)
Dispopar Holds Creative Economy development
Mayangan – Youth, Sports, and Tourism Agency (Dispopar) held creative industry training at Paseban Sena hall, on Tuesday (02/11). The training which was attended by the 50 businessmen will be held for two days.
The head of Dispopar, Budi Krisyanto said it is a big challenge to change their trade way, from traditional (offline) to modern way (e-commerce). “Not all SMEs businessmen understand the how to run e-commerce, and that makes them goes bankrupt at the beginning of pandemic since they got less orders,” he said.
So, Probolinggo city government through Dispopar held digital marketing training for SMEs businessmen. “Through this training, it is hoped all businessmen could use technology in selling their products. It will be one of our new strength in economic creative sectors. Later, after the pandemic end, it will be an added value for SMEs if they acknowledge the online marketing,” added him.
The head of Tourism Destination Department, Sugeng Harijanto said it is to improve the competency of human resources so that they can compete in tourism industry. “And it is also to improve the knowledge, motivation, and the SMEs competency in using technology in selling their products,” he said. This training is specialized for SMEs of culinary, batik and design interior.(unofficial translation)
