Kanigaran – Hari masih pagi, tapi bis yang melayani city tur telah terparkir di depan salah satu sekolah di Kota Probolinggo. Terlihat kumpulan para siswa dan guru yang sudah tak sabar untuk mengelilingi Kota Probolinggo. Hari Senin, (15/11) bis akan membawa rombongan anak-anak istimewa yang menjadi peserta city tour. Siswa SLB (Sekolah Luar Biasa) “Sinar Harapan” 2 Kota Probolinggo mulai dari sekolah dasar sampai sekolah menengah atas terlihat tak sabar untuk melakukan city tour.
Terlihat mereka tertib dan saling bantu waktu masuk bis. Dalam bis, pemandu yang sudah disiapkan Dispopar ditemani dengan guru pendamping. “Jadi yang nanti dijelaskan akan diterjemahkan ke bahasa isyarat, sehingga mereka tetap bisa menangkap informasi yang disampaikan,” kata Kholid Asrori, salah satu pemandu wisata yang bertugas hari itu.
Terlihat para peserta sangat gembira dan antusias mendengarkan setiap informasi yang disampaikan. Wina Tiaranita, pemandu yang bertugas juga mengatakan bahwa city tour kali ini sangat berkesan. “Saya tersentuh dengan mereka, walaupun mereka dengan keterbatasan yang mereka miliki, tapi mereka lebih manusiawi dari kita yang normal. Mereka saling bantu saat naik turun tangga, bikin trenyuh,” katanya.
Rute yang dilalui bis kali ini adalah museum dr. Saleh, museum Probolinggo, Gereja Merah, Pelabuhan Perikanan Pantai, Taman Wisata Studi Lingkungan (TWSL) dan perpustakaan daerah. City tour kali ini diikuti oleh kurang lebih enam puluh orang. “Maka dari itu, kami menggunakan dua bis untuk bisa mengakomodir semua peserta,” kata Tri Setyo Anggodo, Sub Koordinator Pengembangan Pasar dan Kerjasama pada Dispopar. (antz/dispopar)
SLB Students Takes Part in City Tour
Kanigaran – It is still early in the morning, but city tour bus has parked in front of one of schools in Probolinggo city. Many students and teachers are gathered, they can’t wait to go around the city. On Monday (15/11), city tour bus brought a group of special children. Students of SLB (school for special needs children) “Sinar Harapan 2” of Probolinggo city including elementary school to senior high school can’t wait for the city tour.
They helped each other and got into the bus orderly. On the bus, tour guide that had appointed by Dispopar will be accompanied by companion teacher. “So, they will translate what I have explained to sign language, so that they can get the information,” said Kholid Asrori, one of tour guide that day.
All participants were happy and heard all information enthusiastically. Wina Tiaranita, a tour guide, said that she got strong impression for this city tour. “I’m deeply touched by them, even they have disabilities, but they are more humane than us normal humans. They help each other when they go upstair, so touchy,” she said.
The route for city tour this time was dr. Saleh museum, Probolinggo museum, Red Church, Perikanan Pantai port, Taman Wisata Studi Lingkungan (TWSL) and regional library. This city tour had more than sixty participants,” said Tri Setyo Anggodo, sub coordinator for Market Development and Cooperation of Dispopar. (unofficial translation)
