Kanigaran – Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Dispopar) Kota Probolinggo mengadakan pembinaan untuk para pelaku industri kreatif yang ada di Kota Probolinggo, yang kali ini diwakili oleh empat puluh pembatik Senin (07/03). Kegiatan ini dibuka oleh Staf Ahli Wali Kota Probolinggo Bidang Pembangunan, Ekonomi dan Keuangan, Wawan Soegiantono.
Dalam pidatonya, staf ahli mengatakan bahwa pandemic Covid-19 telah menghantam industry pariwisata dan ekonomi kreatif di Indonesia, maka menjadi tanggung jawab bersama untuk memulihkan perekonomian guna mewujudkan kesejahteraan masyarakat. “Tantangan terbesar yang dialami para pelaku ekonomi kreatif saat pandemi melanda adalah berubahnya sistem penjualan pada industri kreatif global. jika sebelumnya masyarakat lebih banyak membeli perlengkapan secara luar jaringan (luring). saat pandemi, cara tersebut tak lagi digunakan. pembeli tidak mau mengambil risiko terkait penularan covid-19. imbasnya, sistem jual beli beralih ke dalam jaringan (daring),” katanya.
Maka, dia mengatakan Pemerintah Kota Probolinggo melalui dispopar mengadakan pembinaan bagi pelaku ekonomi kreatif tentang pemasaran digital. melalui pembinaan ini diharapkan pelaku ekonomi kreatif mulai beradaptasi dengan teknologi dalam memasarkan produk. “Nantinya, setelah pandemi berakhir, kemampuan untuk menguasai pasar daring akan menjadi nilai tambah bagi pelaku ekonomi kreatif di indonesia,” tambahnya.
Plt. Kepala Dispopar, Fadjar Poernomo mengatakan bahwa pembinaan ekonomi kreatif ini untuk meningkatkan kompetensi sumber daya manusia agar mampu bersaing dalam perkembangan industri pariwisata. “Kegiatan ini juga bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, motivasi dan kompetensi pelaku kreatif agar dapat memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi dalam pemasaran produknya,”kata Fadjar. Kegiatan ini berlangsung selama dua hari di Bale Hinggil Kota Probolinggo. (antz/dispopar)
Probolinggo City Youth, Sport and Tourism Agency (Dispopar) held gathered creative industry actors in Probolinggo City, which was represented by forty batik makers, on Monday (07/03). This activity was opened by Expert Staff of Probolinggo Mayor for Development, Economics and Finance affairs, Wawan Soegiantono.
In his speech, the expert staff said that Covid-19 pandemic had hit the tourism and the creative economy industry in Indonesia, so it was all sector’s responsibility to restore the economy in order to fulfill people’s welfare. “The biggest challenge for creative economy actors when pandemic was the change of sales system for the global creative industry. Before pandemic, people bought materials offline. But during pandemic, this method was no longer used. Buyers don’t want to take risks by spreading of Covid-19. As a result, trade system more preferred to online system,” he said.
Moreover, he said the Probolinggo City Government through Dispopar held training for creative economy actors on how digital marketing works. Through this training, it is hoped that creative economy actors will adapt the technology in selling their products. “Later, after the pandemic is over, the ability to adapt online market system will be an added value for creative economy actors in Indonesia,” he added.
Acting Head of Dispopar, Fadjar Poernomo said that this training was to improve the competence of human resources so that they are able to compete in the development of tourism industry. “This activity also aims to increase the knowledge, motivation and competence of creative actors so they can use it in selling their products,” said Fadjar. This activity will be held for two days at Bale Hinggil, Probolinggo City.
