Kota Probolinggo, Jawa Timur | Indonesia

MENYAMBUT KAPAL PESIAR, DILAKSANAKAN RAPAT KOORDINASI

Mayangan – Kedatangan kapal pesiar telah menjadi agenda tahunan bagi Kota Probolinggo. Tetapi untuk mendapatkan penanganan yang lebih baik, diperlukan koordinasi dengan seluruh instansi terkait baik dari internal Pemerintah Kota Probolinggo mapun instansi vertikal yang terlibat. Maka dari itu, diadakan rapat koordinasi terkait dengan pengembangan wisata dan kedatangan kapal pesiar di ruang kerja wakil walikota, Selasa (11/02).

Seluruh pihak menyatakan kesiapan dalam menyambut kedatangan kapal pesiar pada tanggal 26 Februari mendatang. Berbagai hal dibahas dalam rapat koordinasi ini, seperti ketiadaan nama Probolinggo dalam nama-nama pelabuhan yang bisa dikunjungi. “Bila kita mengetik ‘Probolinggo’ maka yang keluar adalah Kali buntu yang sudah tidak beroperasi, maka perlu kita lakukan koordinasi dengan kementerian perhubungan untuk mengentry nama pelabuhan Probolinggo, jadi lebih dikenal,” kata Fardani, perwakilan dari pihak Bea cukai.

Selain itu, akan didirikan pusat pelayanan satu atap (PPSA) untuk penanganan kedatangan kapal pesiar. “Tentunya itu akan mempermudah para agen/travel untuk mencari informasi atau berkoordinasi dengan pihak-pihak yang terlibat dalam kedatangan kapal pesiar, untuk sementara waktu, PPSA akan berlokasi di Dispopar” kata Budi Krisyanto, Kepala Dispopar. Untuk kunjungan ke Pasar Baru akan dialihkan ke Pasar Kronong yang baru diresmikan. Rute yang akan menjadi city tour diantaranya gereja merah, museum Probolinggo, alun-alun, dan sentra batik khas Kota Probolinggo.

Cegah Virus Corona Masuk Probolinggo

Masih menyangkut kedatangan kapal pesiar, juga dibahas tentang penyebaran virus corona yang meluas dalam rapat lanjutan, Rabu (12/02). Pihak Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) menyatakan kesiapan dalam menyambut kapal pesiar. “Kita nanti akan berkoordinasi dengan KKP Surabaya, karena kapal datang dari Surabaya, apakah kapal dibolehkan bersandar atau tidak,” kata Pipin, perwakilan KKP Probolinggo. Dia juga mengatakan nantinya akan mendapat notifikasi dari nakhkoda kapal apakah ada penumpang yang sakit. Dia juga mengatakan bahwa KKP telah mempunyai 70 set baju dan masker N95 yang menjadi standar dalam penanganan penyebaran virus corona. Dia juga mengatakan bahwa selama masa inkubasi (14 hari), dimulai dari hari pertama kapal bersandar di negara yang terjangkit virus corona, sebenarnya tidak diperbolehkan untuk bersandar.

Pihak Pelindo pun mengatakan bahwa turunnya penumpang tergantung dari pemeriksanaan KKP. “Semua tergantung dari pihak KKP, bila pihak KKP tidak memperboleh penumpang turun, maka kami pun akan langsung menurunkan tenda kedatangan kami,” kata Adji Djoko, perwakilan dari Pelindo seraya bergurau.

Sedangkan untuk pihak stasiun Probolinggo, bisa dibilang tidak siap dalam menghadapi virus corona. “Selama ini kita hanya melengkapi petugas yang berjaga dengan cairan desinfektan dan masker,” kata Rofik, perwakilan stasiun Probolinggo.

Dinas kesehatan pun telah bergerak untuk melakukan sosialisasi-sosialisasi terhadap perusahaan-perusahaan yang banyak mempekerjakan Warga Negara Asing (WNA). “Kemarin kita dihubungi oleh pihak hotel Bromo Park, yang mempunyai tamu sakit, tetapi setelah kita evaluasi ternyata flu biasa,” kata dr. NH Hidayati, Dinas Kesehatan Kota Probolinggo. Dia juga menyampaikan bahwa Dinkes bertanggung jawab terhadap orang-orang yang ada di darat, sedangkan untuk orang-orang yang datang dari laut merupakan tanggung jawab KKP. Dinkes juga telah berkolaborasi dengan rumah sakit dr. Saleh untuk menyediakan dua ruang isolasi bila ada orang terduga virus corona. “Disini hanya akan ditangani selama enam jam, setelah itu akan dirujuk ke rumah sakit rujukan di Surabaya, Malang atau Jember.

Wakil Wali Kota Probolinggo, HM Soufis Subri mengharapkan adanya update informasi setipa harinya sampai hari kedatangan kapal pesiar tiba. “Karena pariwisata merupakan salah satu alternatif dalam menunjang pertumbuhan ekonomi,” katanya. Dia juga mengatakan bahwa pemerintah daerah serius dalam melakukan penanganan dalam penyebaran virus corona. “Kita harus siap dalam menghadapi virus corona tersebut, jangan sampai menjadi pihak yang disalahkan,” tambahnya. (antz)

Mayangan – Cruise ship arrival has become an annual agenda for Probolinggo city. To get better handling, it needs coordination with all related agencies either from internal Probolinggo City Government or the vertical agencies. Therefore, a coordination meeting was held regarding tourist development and the arrival of cruise ships at the vice mayor office, on Tuesday (11/02).

All parties stated their readiness in welcoming the arrival of cruise ship on 26th February. Various matters are discussed in this coordination meeting, such as there are no Probolinggo in any harbor names. “If we type ‘Probolinggo’ for harbour’s name, the result is “Kali Buntu” which is no longer operational, so we need to coordinate with Transportation Ministry to update the name of the Probolinggo harbor,and it will be more popular,” said Fardani, a representative from Customs service.

So, there will be an integrated service center (PPSA) for handling the cruise ship’s arrival. “Of course, it is easier for travel agents to find information on the arrival of the cruise ships. “PPSA will be located in Dispopar temporarily,” said Budi Krisyanto, Head of Dispopar. Pasar Baru tour, as part of city tour, will be replaced by Kronong Market tour that was just inaugurated. The route of city tour is red church, Probolinggo museum, city square, and Probolinggo batik center.

Preventing Corona Virus to Probolinggo

Regarding the arrival of cruise ships, it was also discussed on the widespread of the corona virus in an advanced meeting, on Wednesday (12/02). Port Health Authority (KKP) stated that ready in welcoming cruise ships. ”We will coordinate with KKP Surabaya, since the cruise will come from Surabaya,” said Pipin, a representative of KKP Probolinggo. He said that he would get notification from cruise’s captain if there are any sick passengers. He also said that the KKP has had 70 sets of clothes and N95 masks as the standard in handling of corona virus. He explained that as long as incubation period (14 days), started from the first day cruise ship come in a country which is affected by the corona virus, actually the ship should not be allowed to lean.

Pelabuhan Indonesia (Pelindo) representative also said that the passengers was dependent on the KKP inspection. “It depends on the KKP, if the KKP does not allow passengers to get off, then we won’t prepare anything,” said Adji Djoko, a representative  of Pelindo while joking.

Meanwhile, the Probolinggo station said that they are not ready to face the corona virus. “So far, we only have desinfectants and masks,” said Rofik, a representative of the Probolinggo station.

Health Department has socialized to companies which has foreigners as their employees. “Yesterday, we were contacted by Bromo Park Hotel which had sick guests, but after we evaluated, it is just common cold,” said dr. NH Hidayati. She also said that Health Department is responsible for people, but if they come from sailing, it become KKP’s responsibility. Health Department has also collaborated with dr. Saleh Hospital to provide two isolation rooms if there are suspected patient of corona virus. “Here, they will only be handled for six hours, and they will be transfered to a bigger hospital in Surabaya, Malang, or Jember.”

Vice Mayor of Probolinggo, HM Soufis Subri hopes that there will be an updated information everyday until the arrival of cruise ships. “Because tourism is an alternative in supporting economic growth,” he said. He also stated that regional government was serious in handling corona virus. “We must be ready to face corona virus, don’t blame each other,” he added. (unofficial translation)