
Mayangan – Pemerintah Daerah Kota Probolinggo berbenah untuk menyongsong new normal di segala bidang. Di bidang pariwisata, Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Dispopar) Kota Probolinggo pun berbenah diri dan bersiap agar sektor pariwisata bisa menyambut era kenormalan baru dengan baik. Maka dari itu, Dispopar melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke berbagai destinasi wisata dan usaha jasa pariwisata (UJP) di Kota Probolinggo, Senin (29/06).
Sidak ini dilakukan oleh tim assessment pemberlakukan era new normal, yang terdiri dari Dispopar, Kepolisian, Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Dinas Kesehatan (Dinkes), RSUD dr. Moh. Saleh, Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol Praja), Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol), Badan Pengendalian Bencana Daerah (BPBD), Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI), Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) dan Kodim 0820. Dalam sidak tersebut dibagi dalam dua kelompok yaitu kelompok pertama dengan tujuan destinasi wisata dan kelompok kedua dengan tujuan hotel dan restoran.

Dalam sidak tersebut, tim akan melihat dan meninjau kesiapan hotel, restoran dan tujuan wisata dalam menerapkan protokol kesehatan sebagai syarat kesiapan dalam era new normal. Indikator yang dinilai diantaranya adalah, adanya tempat cuci tangan lengkap dengan sabun, pemakaian masker bagi pegawai dan pengunjung, pengecekan suhu tubuh, pemberian tanda untuk menjaga jarak, tersedianya himbauan di setiap sudut, pembatasan jumlah pengunjung, dan sebagainya.
Menurut Kepala Dispopar, Budi Krisyanto mengatakan bahwa sidak ini dilakukan untuk mengetahui kesiapan hotel, restoran, dan destinasi wisata di Kota Probolinggo dalam menghadapi era new normal. “Melalui kegiatan ini, akan diuji coba kesiapan destinasi wisata, hotel dan restoran. Besok, kami akan melaporkan hasil verifikasi hari ini pada wali kota,” katanya. Dia juga menambahkan bahwa kesiapan new normal ini membutuhkan komitmen dari seluruh pihak, baik pengelola, karyawan, maupun pengunjung. “Yang penting adalah “manajemen kerumunan” dan protokol kesehatan tetap dijaga dan dilaksanakan,” kata Budi Kris, biasa dia disapa.
Dalam peninjauan tersebut, masih ada hotel atau restoran yang tidak memberlakukan protokol kesehatan secara lengkap. “Ada salah satu hotel, benar mempunyai thermal gun tapi tidak digunakan, hanya digunakan bila mengunjung meminta pengecekan suhu tubuh, dan tidak ada tanda untuk penerapan physical distancing (jaga jarak),” kata Umi Salma, Kasi Pendataan dan Informasi dalam bidang Pemasaran Pariwisata yang juga masuk dalam tim penilai. Tempat-tempat yang dituju diantaranya Hotel Bromo Park, Hotel Bromo View, Hotel Lava Lava, Beejay Bakau Resort (BJBR), Restoran Sari Kuring, Orin Resto &Hall, dan lain sebagainya. (antz/dispopar)
